BUAH DARI SURGA?????
“Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, dan demi bukit Sinai.” (At-Tin:1-2)
Apa sebenarnya yang terkandung dalam buah tin sehingga Allah membuat catatan khusus. Lantas apa kandungan nutrisi dan manfaatnya bagi kesehatan?

Buah Tin / Ara / Fig (Ficus carica) dipercaya sebagai fruit from paradise, buah suci dari taman surgawi. Bukan tanpa alasan, selain rasanya yang segar dan lezat, buah ini juga memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Bahkan manfaat ini juga disebutkan dalam hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Darda ra.

Dalam hadits tersebut dikisahkan Rasulullah diberi buah tin dan memakannya. Kemudian Rasulullah bersabda,”Jika engkau berkata ada buah yang diturunkan dari surga, maka aku bisa katakan, inilah buahnya, karena sesungguhnya buahnya tanpa biji. Oleh karena itu makanlah, karena buah tin ini dapat menyembuhkan wasir dan encok.”

Literatur sejarah mencatat kalau buah tin berasal dari Arab dan sudah ada sejak 4000 tahun sebelum masehi. Sekarang pohon tin telah banyak tumbuh dan dibudidayakan secara mordern di negara-negara Timur Tengah, daerah Mediterania dan bahkan Indonesia.

Matang rasanya sangat manis

Tin muda berwarna kehijauan. Seiring dengan matangnya buah, warna kulit akan berubah menjadi ungu kehitaman, kemerahan atau kekuningan sesuai dengan varietasnya. Buah muda biasanya dikonsumsi sebagai olahan sayur, dimasak dengan aneka daging atau campuran selada. Jika sudah tua dan matang sangat lezat dan manis rasanya bila dikonsumsi.

Di Timur Tengah maupun Eropa, tin termasuk buah mewah dan mahal. Dulunya hanya dikonsumsi kalangan bangsawan atau kalangan bangsawan atau saat acara-acara istimewa. Seiring dengan majunya teknologi pertanian, kini buah tin makin mudah didapat dengan harga yang relatif terjangkau.

Orang Eropa menyebut buah tin dengan buah fig. Sepintas buah ini memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum, teksturnya empuk, rasanya keset, manisnya sedang, sedikit mengandung air dan berbiji banyak namun biijnya enak dimakan.

Tingginya kandungan pektin, menjadikan buah ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan baku selai, jelly, jam, maupun marmalade dengan rasa yang lezat dan keharuman yang khas.

Tin kaya manfaat dan Kandungan Gizinya

Hasil penelitian Prof. Dr.Ir. Ali Khomsan, buah2an merupakan sumber serat yang baik. Serat ini sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan saluran penceranaan. Dengan mengkonsumsi banyak serat maka akan terhindar dari penyakit seperti sembelit. Serat juga dapat mengikat zat karsinogen pemicu timbulnya kanker di saluran cerna.

Berdasarkan penelitian Californaia Fig Nutritional Information, buah tin mengandung serat yang sangat tinggi. Setiap 100 gr buah tin kering terkandung 12.2 g serat sedangkan apel hanya 2.0 g dan jeruk 1.9 g. Serat juga memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga cocok bagi orang yang sedang menjalani diet atau puasa.

Kandungan gula buah juga tinggi, dicerna sedikit demi sedikit di dalam tuubuh karena merupakan gula buah yang komplek. Cocok dikonsumsi sebagai hidangan menu buka atau santap sahur untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa atau memberi energi selama berpuasa.

Dalam penelian lain, disebutkan bahwa tin juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan bagi kesehatan diantaranya omega-3 dan omega-6. Kelebihan yang lain, buah tin rendah lemak, rendah sodium, rendah kalori dan bebas kolesterol sehingga sangat cocok dikonsumsi penderit diabetes mellitus.

Keistimewaan buah ini tidak berhenti sampai disitu. Beragam vitamin dan mineral bermanfaat terkandung didalamnya. Setiap 100 g buah tin mengandunng vitamin A, vitamin C, kalsium dan zat bersi serta kalium. Kalium adalah mineral yang bersifat diuretik sehingga membantu mengeluarkan garam dalam tubuh. Sangat baik dikonsumsi oleh penderita hipertensi. Vitamin dan mineral ini sangat diperlukan tubuh untuk menjaga? dan memelihara kesehatan organ tubuh kita.

I.            BUDIDAYA TANAMAN

A.    Sistematika Tumbuhan

1. Nama Tanaman

Tanaman Citrus aurantifolia (Cristm.) Swingle dikenal di pulau Sumatra dengan nama Kelangsa (Aceh), di pulau Jawa dikenal dengan nama jeruk nipis (Sunda) dan jeruk pecel (Jawa), di pulau Kalimantan dikenal dengan nama lemau nepi, di pulau Sulawesi dengan nama lemo ape, lemo kapasa (Bugis) dan lemo kadasa (Makasar), di Maluku dengan naman puhat em nepi (Buru), ahusi hisni, aupfisis (Seram), inta, lemonepis, ausinepsis, usinepese (Ambon) dan Wanabeudu (Halmahera) sedangkan di Nusa tenggara disebut jeruk alit, kapulungan, lemo (Bali), dangaceta (Bima), mudutelong (Flores), mudakenelo (Solor) dan delomakii (Rote)

Sinonim : Limonia aurantifolia Christm., Limon spinosum Mill., Citrus limonia Osbeck, Citrus lima Luman, Citrus spinosissima G.F.W. Meyer, Citrus acida Roxb., Citrus aurantium

2. Klasifikasi

Citrus aurantifolia dikenal dengan nama jeruk nipis. Klasifikasi tanaman ini adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisio             : Spermatophyta

Subdivisio       : Angiospermae

Klas                   : Dicotyledonae

Bangsa            : Rutales

Famili              : Rutaceae

Genus              : Citrus

Species            : Citrus aurantifolia (Cristm.) Swingle

3. Morfologi

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) termasuk salah satu jenis Citrus Geruk. Jeruk nipis termasuk jenis tumbuhan perdu yang banyak memiliki dahan dan ranting. Tingginya sekitar 0,5-3,5 m. Batang pohonnya berkayu ulet, berduri, dan keras. Sedang permukaan kulit luarnya berwarna tua dan kusam. Daunnya majemuk, berbentuk ellips dengan pangkal membulat, ujung tumpul, dan tepi beringgit. Panjang daunyya mencapai 2,5-9 cm dan lebarnya 2-5 cm. Sedangkan tulang daunnya menyirip dengan tangkai bersayap, hijau dan lebar 5-25 mm.

Bunganya berukuran majemuk/tunggal yang tumbuh di ketiak daun atau di ujung batang dengan diameter 1,5-2,5 cm. kelopak bungan berbentuk seperti mangkok berbagi 4-5 dengan diameter 0,4-0,7 cm berwama putih kekuningan dan tangkai putik silindris putih kekuningan. Daun mahkota berjumlah 4-5, berbentuk bulat telur atau lanset dengan panjang 0,7-1,25 cm dan lebar 0,25-0,5 cm berwarna putih

Tanaman jeruk nipis pada umur 2,5 tahun sudah mulai berbuah. Buahnya berbentuk bulat sebesar bola pingpong dengan diameter 3,5-5 cm berwarna (kulit luar) hijau atau kekuning-kuningan. Tanaman jeruk nipis mempunyai akar tunggang. Buah jeruk nipis yang sudah tua rasanya asam. Tanaman jeruk umumnya menyukai tempat-tempat yang dapat memperoleh sinar matahari langsung (CCRC, 2009)

B.     Persyaratan Tumbuh

Tanaman jeruk umumnya menyukai tempat-tempat yang dapat memperoleh sinar matahari langsung. Ketinggian tempat : 200 m – 1.300 m di atas permukaan laut. Curah hujan tahunan : 1.000 mm – 1.500 mm/tahun. Bulan basah (di atas 100 mm/bulan): 5 bulan – 12 bulan · Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan): 0 bulan – 6 bulan. Suhu udara : 200 C – 300 C. Kelembapan : sedang – tinggi. Penyinaran : sedang. Jenis tanah: latosol, aluvial, andosol. Tekstur : lempung berpasir lempung dan lempung liat. Drainase : baik Kedalaman air tanah : 40 cm – 170 cm dari permukaan tanah. Kedalaman perakaran : di bawah 40 cm dari permukaan tanah. Kemasaman (pH) : 4 – 9 Kesuburan : sedang – tinggi (IPTEKnet, 2005).

C.    Budidaya tanaman

1. Persiapan lahan

Pegolahan tanah dilakukan seperti biasa dengan cara  membuatkan lubang tanam berukuran 50 cm x 50 cm x 40 cm. Tanah bagian atas dipisahkan dari tanah di bawahnya, kemudian diberi pupuk kandang. Tanah bagian bawah dimasukkan kembali, kemudian disusul tanah bagian atas.

2. Persiapan bibit

Bibit jeruk nipis yang disiapkan biasanya hasil dari perbanyakan system cangkok dan okulasi. Bibit yang sudah mengalami aklimatisasi setelah di cangkok atau di okulasi di siapkan dengan cara dibuka plastic pembungkus media akarnya kemudian ditanam.

3. Penanaman

Bibit yang telah disiapkan kemudian ditanam pada lubang yang telah disiapkan. Jarak tanam jeruk nipis yang ideal adalah 6 m x 6 m.

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan jeruk nipis terdiri dari:

5. Penyulaman

Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.

6. Penyiangan

Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.

7. Pembumbunan

Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.

8. Pemangkasan

Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.

9. Pemupukan

Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:

  • 1 bulan: Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
  • 2 bulan: Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
  • 3 bulan: Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60 kg/ta
  • 4 bulan: Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/ta
  • 5 bulan: Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
  • 6 bulan: Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
  • 7 bulan: Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
  • 8 bulan: Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
  • 8 bulan: Urea >1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.

10. Pengairan dan Penyiraman

Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.

11. Penjarangan Buah

Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot

buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.

12. Hama dan Penyakit

  • Kutu loncat (Diaphorina citri.)

Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang

  • Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)

Bagian yang diserang adalah tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).

  • Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)

Bagian yang diserang adalah buah. Gejala: lubang yang mengeluarkan getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC) yang disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.

  • CVPD

Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yang baik

  • Woody gall (Vein Enation)

Penyebab: virus Citrus Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange. Gejala: Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun. Pengendalian: gunaan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.

  • Busuk buah

Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.

Bagian yang diserang adalah buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.

13. Panen

  • Ciri dan Umur Panen

Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung jenis/varietasnya.

  • Cara Panen

Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.

  • Perkiraan Produksi

Rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.

14. Pasca panen

  • Pengumpulan

Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dengan diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat  terkecil.

  • Penyortiran dan Penggolongan

Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk. Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.

  • Penyimpanan

Untuk menyimpan buah jeruk, gunakan tempat yang sehat dan bersih dengan temperatur ruangan 8-10 derajat C.

  • Pengemasan

Sebelum pengiriman, buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yang tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg (BAPPENAS, 2000).

II.            KANDUNGAN KIMIA

A.    Daun

Komponen yang terdapat di dalam daun jeruk nipis setelah diambil minyak yang terkandung di dalamnya adalah acetaldehyde, α penen, sabinen, myrcene, octano, talhinen, limonoida, T trans-2 hex-1 ol, terpinen, trans ocimen, cymeno, terpinolene, cis-2 pent-1 ol. Senyawa organik yang terdapat di dalamnya antara lain vitamin, asam amino, protein, steroid, alkaloid, senyawa larut lemak, senyawa tak larut lemak. Senyawa yang khas adalah senyawa golongan terpenoid yaitu senyawa limonoida. Senyawa ini yang berfungsi sebagai larvasida (Ferguson,2002).

B.     Buah

Dalam 100 gram buah jeruk nipis mengandung: vitamin C 27 miligram,    kalsium 40 miligram, fosfor 22 miligram, hidrat arang 12,4 gram, vitamin B 1 0,04 miligram, zat besi 0,6 miligram, lemak 0,1 gram, kalori 37 gram, protein 0,8 gram dan air 86 gram. Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia antara lain limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, sitral dan asam sitrat. Sitrat jeruk nipis lokal (Citrus aurantifolia Swingle yang bulat) 10 kali lebih besar dibanding kandungan sitrat pada jeruk keprok, atau enam kali jeruk manis. Kandungan sitratnya mencapai 55,6 gram per kilogram. (IPTEKnet, 2005).

C.    Bunga, Batang dan Akar

Kandungan kimia bunga, batang dan akar tidak terlalu mencolok jika di bandingkan dengan daun dah buah. Secara umum kandungan kimia pada batang adalah senyawa golongan terpenoid yaitu senyawa limonoida namun dalam jumlah yang sedikit.

III.            KHASIAT OBAT

A.    Penyakit yang dapat diobati

Amandel, Malaria, Ambeien, Sesak Nafas, Influenza, Batuk; Sakit panas, Sembelit, Terlambat haid, perut mules saat haid, Disentri, Perut Mulas, Perut Mual, Lelah, Bau badan, Keriput wajah (IPTEKnet, 2005).

B.     Cara pembuatan ramuan obat

1. Amandel

Bahan : 1 buah jeruk nipis, 1 1/2 rimpang kunyit sebesar ibu jari  diparut dan 2 sendok makan madu;

Cara membuat : jeruk nipis diperas untuk diambil aimya, kunyit  diparut dan diperas untuk diambil airnya, kemudian dioplos dengan   madu dengan ditambah 1/2 gelas air, diaduk sampai merata, dan  disaring;

Cara menggunakan: diminum 2 hari sekali secara teratur.

2. Malaria

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1 sendok makan kecap, garam  secukupnya;

Cara membuat :jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, kemudian dioplos dengan bahan lainnya dan disaring;

Cara menggunakan: diminum tiap pagi menjelang sarapan.

3. Ambeien

Bahan: 2 – 4 potong akar jeruk nipis;

Cara membuat: direbus dengan 1 1/2 liter air sampai mendidih  hingga tinggal 1 liter, kemudian disaring;

Cara menggunakan : diminum setiap sore weara teratur.

4. Sesak Nafas

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 2 siung bawang merah, 1 butir telur ayam kampung, 1 sendok teh bubuk kopi, 1 potong gula batu,

Cara membuat: jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, bawang merah diparut kemudian dicampur dengan bahan lainnya dan diseduh dengan air panas secukupnya, diaduk sampai merata, kemudian disaring;

Cara menggunakan: diminum setelah makan pagi secara teratur.

5. Influenza

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1/2 sendok minyak kayu putih, kapur sirih secukupnya;

Cara membuat: jeruk nipis dipanggang sejenak dan diperas untuk diambil airnya, kemudian dicampur dengan bahannya dan diaduk sampai merata, dan disaring;

Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari secara teratur.

6. Batuk

  • Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1 1/2 sendok kecap, garam secukupnya;

Cara membuat: jeruk nipis diperis untuk diambil airnya,

Cara menggunakan: diminum secara teratur 1 kali sehari selama sakit

  • Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1/4 sendok tepung biji buah pala, 1 sendok minyak kayu putih;

Cara membuat: jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, kemudian dioplos dengan bahan lainnya sampai merata;

Cara menggunakan: dipakai sebagai bedak dan dioleskan pada dada dan punggung.

7. Sakit panas

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1/2 sendok minyak kelapa, 1 sendok minyak kayu putih, 2-4 siung bawang merah yang dihaluskan;

Cara membuat:  jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, kemudian dioplos dengan bahan lainnya sampai merata,

Cara menggunakan: dipakai sebagai kompres dan obat gosok untuk dada dan punggung.

8. Sembelit

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 2 – 4 siung bawang merah, 1 sendok minyak kayu putih, buah asam secukupnya, 2 sendok air masak;

Cara membuat: jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, kemudian dicampur dengan bahan lainnya dan dihaluskan bersama-sama;

Cara menggunakan: dioleskan di seluruh tubuh, terutama di seputar perut.

9. Telambat datang bulan

Bahan : 1 buah jeruk nipis, 2 rimpang kunyit sebesar ibu jari, kapur sirih dan garam secukupnya;

Cara membuat: jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, kunyit diparut dan diperas untuk diambil airnya, kemudian semua bahan tersebut dicampur merata dan disaring;

Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari.

10. Perut mules pada waktu haid datang bulan

Bahan: 1 buah jeruk nipis, 1 1/2 rimpang jahe sebesar ibu jari, 3 mata buah asam yang sudah masak, 1 potong gula kelapa;

Cara membuat : jeruk nipis diperas untuk diambil airnya, jahe diparut, kemudian semua bahan tersebut dicampur dan diberi 3/4 gelas air masak dan disaring;

Cara menggunakan: diminum pada hari pertama haid.

11. Disentri

Bahan: 2 potong akar jeruk nipis;

Cara membuat: direbus dengan 2 1/2 gelas air sampai mendidih, kemudian disaring;

Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari

Sumber:

IPTEKnet. 2005. Tanaman Obat Indonesia http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=131.

Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC) . 2009. Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia). Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/

Kemal Prihatman. 2008. Budidaya Jeruk. Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS Jakarta, Februari 2000. http://otrad.multiply.com/journal/item/3

Ferguson.2002.Medicinal Use of Citrus Scienses departmenr.Cooperative extension services Institute of Food Agricultural Science, University of Florida, Gainesville (on line),http://edis.ifas.ufl.edu/body Chi 96.

Benefits of Living in Boarding House

Posted: October 14, 2011 in Lecture

Budiawan, Rahman. (2010). Benefits of Living in Boarding House among Students Agrotechnology UMY 2008.Paper. Yogyakarta. Muhammadiyah University.

This study aims to determine the benefits of living in a boarding house for students agroteknology of  Muhammadiyah University in academic year 2008. This research use qualitative research since the data of the research were in words, phrase and the sentences. This research was conducted by interview and literature study. This research was conducted at the Muhammadiyah University, Taman Tirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta in October 2010. The results were obtained following results: There are two benefits of living in a boarding house for students: 1). Live more independently 2) Life is more responsible for themselves. There are also some positive impacts lived in boarding houses include: more independent, more free and more comfortable, multiply channel, rather free, clean and free to go home anytime. But there are also negative impacts are: Not free to bring a female friend, always short of money, and there is’ Also complained so far and tired cause his boarding house far from campus.

      

        

Curug Citambur yang terletak di Desa Mekarjaya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur Jawa Barat.

Pengertian Lanskap

Lanskap adalah konfigurasi partikel topografi, tanaman penutup, permukaan lahan dan pola kolonisasi yang tidak terbatas, beberapa koherensi dari kealamian dan proses kultural dan aktivitas (Green dalam Ferina 1998).

Harber membatasi lansekap sebagai sebuah potongan lahan yang diamati seluruhnya, tanpa melihat dekat pada komponen-komponennya (Pers Com dalam Ferina 1998).

Menurut Zonneveld (1979) lansekap adalah ruang yang terdapat di permukaan bumi yang terdiri dari sistem yang kompleks, terbentuk dari aktifitas batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia serta melalui fisiognominya membentuk suatu kesatuan yang dapat dikenali (diidentifikasi). Sedangkan Menurut Forman & Godron lansekap adalah Suatu lahan heterogen dengan luasan tertentu yang terdiri dari sekelompok/kumpulan (cluster) ekosistem yang saling berinteraksi; kumpulan tersebut dapat ditemukan secara berulang dalam suatu wilayah dengan bentuk yang sama Didalam bahasa inggris tua dan ke-sinoniman batasan kata “landscape” mempunyai arti Wilayah/Region. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa lansekap adalah kesatuan wilayah di permukaan bumi yang terdiri dari kesatuan ekosistem yang saling berinteraksi (batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia).

Dasar Pembentuk Lanskap

Dalam Burton, 1995, secara geografik terdapat tida unsure pembentuk lanskap atau bentang alam yaitu:

1. Bentuk permukaan bumi

Dalam pariwisata unsure ini menentukan ada tidaknya kenampakan alam yang dapat dijadikan sumber atraksi. Misalnya goa, tanah yang terjal untuk terbang layang, puncak bukit untuk pendakian, dan lain-lain. Hal penting lainnya adalah air seperti sungai, danau dan laut lingkungan dalam yang dapat membentuk dan mempertajam landform.

2. Vegetasi alami dan binatang-binatang yang menempatinya

Cakupan unsure ini terbentang dari hutan hujan tropis di daerah equator hingga padang-padang rumput di Afrika, ke hutan di bagian utara yang terdiri dari padang tundra, serta ke ekositem kutub. Vegetasi dah habitat binatang ini sangat tergantung dengan pola iklimnya.

3. Penggunaan tanah

Unsur ketiga ini adalah hasil kreatifitas manusia dalam merubah atau memodifikasi natural vegetation, menjadi tanah pertanian, usaha kehutanan, bangunan-bangunan, jalan, dan lain sebagainya. Interaksi manusia dengan berbagai bentuk alam menciftakan bentang budaya (cultural lanskap)

Ketiga elemen tersebut diatas tidak selalu ada di suatu tempat, bisa jadi salah satu elemen mendominasi, misalnya pada gurun yang kering unsure landform sangat dominan, sedangkan pada wilayah perkotaan unsure penggunaan tanah lebih dominan, dan pada hutan hujan tropis unsure vegetasi yang dominan menjadi pembentuk wilayah tersebut.

Anasir dan Faktor Bentang Lahan

Faktor-faktor penentu terbentuknya bentang lahan adalah : faktor geomorfik (G), faktor litologik (L), faktor edafik (E), faktor klimatik (K), faktor hidrologik (H), faktor oseanik (O), faktor biotik (B), faktor antropogenik (A). Berdasarkan faktor-faktor pembentukan lahan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Ls = f (G,L,E,K,H,O,B,A).

Lanskap merupakan kombinasi atau gabungan dari bentuk lahan. Unit analisis yang lebih rinci diperlukan dalam mengadakan analisis bentang lahan. Dengan mengacu pada definisi bentang lahan dapat dimengerti, bahwa unit analisis yang sesuai adalah unit bentuk lahan. Oleh karena itu untuk menganalisis dan mengklarifikasi bentang lahan selalu mendasarkan pada kerangka kerja bentuk lahan. Bnetuk lahan bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografi khas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. Faktor pembentuk lahan dirumuskan sebagai berikut :

B = f (T,P,S,M,K)

B = Bentuk lahan, T = Topografi, P = Proses alam, S = Strukrtur geologis, M = Material batuan, K = Ruang dan waktu

Analisis dan Klarifikasi Bentang Lahan

Analisis bentang lahan lebih sesuai apabila menggunakan unit betuk lahan, maka klarifikasi bentang lahan didasarkan pada unit-unit bentuk lahan yang menyusunnya. Menurut Verstappen (1983) klasifikasi bentuk lahan didasarkan pada genesisnya menjadi sepuluh kelas utama.

Kesepuluh kelas bentuk lahan utama ini yaitu :

  1. Bentuk lahan asal struktural
  2. Bentuk lahan asal vulkanik
  3. Bentuk lahan asal denudasional
  4. Bentuk lahan asal fluvial
  5. Bentuk lahan asal marine
  6. Bentuk lahan asal glasial
  7. Bentuk lahan asal aeolian
  8. Bentuk lahan asal solusional
  9. Bentuk lahan asal organik
  10. Bentuk lahan asal antropogenik

Elemen Lanskap

Elemen landscape dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu:

  • Hard material / Elemen keras, perkerasan, bangunan dan sebagainya.
  • Soft Material / Elemen lembut, tanaman.

Elemen Keras                                            Elemen Lunak

Elemen pendukung landscape :

  • Tempat duduk / kursi taman.
  • Untuk istirahat sejenak.
  • Tempat duduk dengan sesuatu untuk dipandang.
    • Elemen – elemen alam :

Sifat air yang tenang di kolam apabila dikombinasikan dengan dengan pohon maka akan menghasilkan suasana yang tenang.

Kolam air / kolam air mancur

  • Kolam sebagai sarana bermain anak-anak.
  • Tepian kolam air mancur sebagai tempat duduk.

Faktor Pembentuk Lanskap

Faktor Pembentuk Lanskap. Lanskap terbentuk dari beberapa faktor  yang masing-masing saling berinteraksi. Faktor pembentuk lanskap meliputi  vegetasi, tanah, batuan, air, bentuk lahan, iklim makro maupum mikro, hewan  maupun manusianya

Lanskap terbentuk dari interaksi yang kompleks antara vegetasi, iklim  mikro kawasan, tata air, bentukan lahan dan tanah serta keberadaan penggunanya  yaitu manusia dan hewan. Masing masing faktor tersebut merupakan suatu ikatan  yang erat yang akan memberikan nuansa dan bentuk lanskap yang berbeda-beda.

Gambar Faktor Pembentuk Lanskap

Karakteristik utama Lanskap yang mempengaruhi pola dan diversitas hewan dan tanaman (Harvey, 2007: Farming with Nature hal 148)

Komposisi Struktur Managemen Konteksregional
Land use saat ini Patchy dari segiukuran dan bentuk Managemen tanaman:pengolahan tanah, carapemanenan, rotasi

tanaman,

Native ecosystem,bioficalcharacteristics
Floristic dankomposisi structural Pengaturan secaraspasial lahanpertanian – non

pertanian

Ladang penggembalaandan pengelolaan ternak Lokasi relatifterhadp kawasankonservasi
Land usemembentuk matrikspertanian Letak patch antarnative habitat (jarak,pengaturan) Pengendalian tanamanatau hewan penggangu Temporal LandUse change
Proporsi lanscapedengan nativevegetation Tingkat konektivitashabitat native dalamlanskap pertanian Degradasi dari patchnative vegetation yangtersisa Sejarah pertaniandi lanskap
HeterogenitasLanskap, tepi/border Temporal dynamics ofland use change



Sumber

Aditya. 2011. Anasir dan Analisis Bentang Wilayah. http://id.shvoong.com/society-and-news/environment/2173197-anasir-dan-analisis-bentang-lahan/

Harvey. 2007. Farming with Nature. http://pertanianberlanjut.lecture.ub.ac.id/files/2011/03/Bab04_Karakteristik-Lansekap.pdf

Raflis. 2010. Rencana Tata Ruang Riau. http://rencanatataruangriau.blogspot.com/